Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Tak Inginkah Kita Menjadi Sahabatnya?





الحمد لله,الصلاة والسلام على رسول الله.
Sesungguhnya, segala puji hanya milik Allah k, kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya, serta kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kita dan keburukan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allahkpetunjuk (hudaa) maka tak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang dikehendaki oleh-Nya sesat maka tak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tak ada ilah (sembahan yang haq) selain Allah kdan Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya.
Saudariku, muslimah…
Pernahkah engkau memiliki sahabat? Bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat karib? Senang ya? Ada tempat berbagi, minta nasihat, ada yang menemani, dan kalau kesusahan ada yang bantuin! Wah, siapa sih yang tak ingin sahabat kalau begini?! Tapi, tahu nggak sih, muslimah, kalau ada sahabat yang lebih baik dari sahabat-sahabat ‘manusia’ kamu? Nggak?! Nah, sini sini… coba buka lemari kamu atau rak buku di rumahmu atau yang biasa dipajang tuh di samping televise atau di musholla rumah kamu. Sudah ketemu? Sudah tahu kan? Sudah kenal kan? Ya! Dia adalah Al-Qur’an.
Tahu, nggak sih muslimah…?
Sahabat dan keluarga kita di dunia ini, mereka mungkin akan menemani kita, bercanda tawa dengan kita, mengurangi kesusahan kita, tapi semua itu hanya di dunia ini saja. Saat masa ujian kita di dunia ini telah berakhir dan kita sudah harus mempertanggungjawabkan hasil ujian dunia kita kepada Robb kita ‘azza wa jalla, maka mereka akan meninggalkan kita. Jangankan masa pertanggungjawaban di yaumul hisab nanti, pre-yaumul hisab-nya alias alam kubur aja mereka sudah nggak ada menemani kita! Allahumma…
Kita hanya sendiri, berteman sepi. Kita sendiri beralas tanah dan juga beratap tanah. Kita hanya seorang diri, menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Kita hanya sendiri! Hingga hari pembangkitan tiba, maka kitapun dibangunkan untuk mempertanggungjawabkan kembali hasil usaha kita di dunia. Di bawah terik matahari yang hanya sejengkal, tanpa sehelai pakaian. Pada saat itu pandangan kita tertunduk, tubuh kita gemetar ketakutan tentang apa yang akan kita katakan pada Robbul ‘alamin?!
“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (Qs. An-Nabaa’: 38-39)
Pada saat itu, saudariku… pada saat itulah kita sangat membutuhkan pertolongan! Kita akan mencari kesana-kemari meminta syafa’at (pertolongan) untuk meringankan kesulitan kita yang teramat sangat.
       
“dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya, sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (Q.S Al-Ma’arij: 10-14)
Pada saat itulah… Al-Qur’an akan datang
وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَان
 “….Sedangkan al Qur`an berkata : “Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafa’at”. [HR Ahmad, II/174; al Hakim, I/554; dari Abdullah bin ‘Amr. Sanad hadits ini hasan. Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh Imam adz Dzahabi. Dishahihkan juga oleh syaikh al Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 394]
Pada hari tidak ada syafaat kecuali syafaat yang diizinkan oleh Allah, Al-Qur’an akan memberikan syafa’at. Tetapi, kepada siapa? Tahulah engkau jawabannya wahai saudariku, ia adalah mereka yang semasa di dunia ini bersahabat dengan Al-Qur’an.
“Dari Abi Umamah a ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).” (HR. Muslim)
Inilah yang akan menyelamatkanmu, lantas, tak maukah engkau bersahabat dengannya? Tak maukah engkau menjadi ahlul qur’an?
Siapakah yang dimaksud ahlul qur’an dan ahlullah (keluarga Allah) atau hamba-hamba khusus bagi Allah dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)
Simak penjelasan Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah– berikut: (Syarah Risalah Al-‘Ubudiyyah halaman: 64. Dar Ibnul Jauzi, Cetakan pertama; th 1435 H)
“Yang dimaksud ahlul qur’an  bukan orang yang sekedar menghafal dan membacanya saja. Ahlul qur’an (sejati) adalah yang mengamalkannya, meskipun ia belum hafal Qur’an. Orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an; menjalankan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak melanggar batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, mereka itulah yang dimaksud ahlul qur’an, keluarga Allah serta orang-orang pilihannya Allah. Merekalah hamba Allah yang paling istimewa.
Adapun orang yang hafal Al-Qur’an, membaguskan bacaan Qur’an nya, membaca setiap hurufnya dengan baik. Namun jika ia menyepelekan batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, ia bukan termasuk dari ahlul qur’an. Tidak pula termasuk dari orang-orang khususnya Allah.
Jadi ahlul qur’an adalah orang yang berpedoman dengan Al-Qur’an (dalam gerak-gerik kehidupannya), ia tidak menjadikan selain Al-Qur’an sebagai panutan. Mereka mengambil fiqih, hukum-hukum dari Al-Qur’an, serta menjadikannya sebagai pedoman dalam beragama..”
Jadi, saudariku, masih tak inginkah engkau menjadi ahlul qur’an, ahlullah?
Janganlah diri kita menjadi yang sebagaimana difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla,
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini diabaikan.” (QS. al-Furqan: 30)
Ibnu Katsir menjelaskan makna “Mahjura (diabaikan)“ dalam kitab tafsirnya dengan beberapa pengertian, di antaranya,
1.Orang-orang musyrikin enggan mendengarkan (bacaan) al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
“Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fushshilat:26)
Dahulu, apabila dibacakan kepada mereka al-Qur’an, mereka membuat gaduh (hiruk pikuk) dan memperbanyak pembicaraan yang lain sehingga mereka tidak mendengar bacaan al-Qur’an.
Note:
Dalam nash aslinya tertera (
لَا يَصْغَوْنَ لِلْقُرْآنِ وَلَا يَسْمَعُوْنَه) kata (لَا يَصْغَوْن ) bermakna ( لَا يَسْتَمِعُوْنَ ), dan kata (يَسْمَعُ) berarti hanya sekedar mendengarkan tanpa teriringi tadabur maupun penghayatan, adapun kata ( يَسْتَمِعُ ) bermakna mendengarkan sembari diikuti penghayatan dan tadabur dalam hati. Dan orang-orang musyrikin enggan mendengarkan bacaan al-Qur’an dengan cara kedua-duanya, baik hanya sekadar mendengarkan, terlebih harus mentadaburi dan menghayati firman Allah tersebut.
2.Tidak mengamalkan (isinya) dan tidak berusaha menghafalnya juga termasuk dalam arti mengabaikan al-Qur’an.
3.Tidak beriman dan tidak membenarkannya juga masuk dalam kategori mengabaikan al-Qur’an.
4.Enggan mentadaburi dan tidak mau berusaha memahami (maknanya) juga termasuk bagian dari mengabaikan al-Qur’an.
5.Tidak mengamalkannya, berupa tidak melaksanakan perintah-perintahnya dan tidak menjauhi larangan-larangannya, ini juga termasuk dalam kriteria mengabaikan al-Qur’an.
6.Berpaling darinya dan menuju ke yang selainnya, baik berupa syair, perkataan, nyanyian, senda gurau, obrolan, atau berupa metode yang teradopsi dari selain al-Qur’an. Perbuatan ini juga termasuk mengabaikan al-Qur’an. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, 6/98-99)
Wal’iyadzubillahi min dzalik.
Semoga Allah menerangi hati kita dengan Al-Qur’an dan memberikan kita petunjuk untuk menjadi shahibatul qur’an.
Allahul musta’an (FA)

Kisah Buah Keikhlasan- Muhyiddin

Saya sangat tergugah dengan kisah-kisah keikhlasan yang berbuah manis hingga hari ini. Mereka bukanlah orang-orang yang menikmati gelar-gelar dan kenikmatan semasa hidupnya, tetapi Allah telah menjaga mereka dalam kenikmatan yang jauh lebih kekal insya Allah. Semoga Allah merahmati mereka. Di antara mereka, saya dengar kisahnya pada pengantar tafsir Mishbahul Munir oleh Ust. Muhammad Nuzulul, yaitu Imam Malik rahimahullah. Kisah yang paling menyentuh adalah pada keikhlasan yang begitu indah saat ada yang menanyakan, "Mengapa Anda masih menulis kitab muwatha' padahal telah banyak kitab muwatha'?" lalu beliau menjawab,
"Pekerjaan yang dilakukan karena Allah akan kekal."
Kisah lain pun telah tergores memberi kita isyarat tentang pentignya sebuah keikhlasan.

Namun, kisah yang akan saya bagikan di sini adalah kisah Imam yang lain yang tak kalah menakjubkannya. Kisah seorang Imam yang diberi gelar Muhyiddin (orang yang menghidupkan agama), walau beliau tidak menyukainya. Ya, beliau adalah Imam An-Nawawi rahimahullah. Kisah ini saya ambil dari Riyadhush Shalihin.

Nama
Nama lengkap Imam An-Nawawi rahimahullah adalah Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum'ah bin Hizam.

Gelar dan Panggilan
Imam An-Nawawi rahimahullah dikenal juga dengan kun-yah (nama panggilan) Abu Zakariya, walaupun ia tidak mempunyai anak yang bernama Zakariya. Sebab, imam Ahli Hadits ini belum sempat menikah. Ia termasuk ulama yang membujang hingga akhir hayatnya. Imam An-Nawawi mendapat gelar muhyiddin (orang yang menghidupkan agama), namun ia tidak menyukai sebutan kehormatan itu; sebagaimana pernah dikemukakan olehnya: "Aku tidak mengizinkan orang lain memberiku gelar muhyiddin."

Nisbat
Imam An-Nawawi rahimahullah bernasab Al-Hizami. Nasab tersebut disandarkan kepada kakek tertuanya yang bernama Hizam. Sebagian nenek moyangnya menyatakan panggilan itu dinisbatkan atau disandarkan kepada orang tua salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, yaitu Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu. Namun, Syaikh An-Nawawi rahimahullah berkomentar:" Penisbatan ini keliru".

Yahya bin Syaraf dijuluki an-Nawawi karena dilahirkan di Nawa; dijuluki asy-Syafi'i, karena menganut madzhab Asy-Syafi'i, serta dijuluki Ad-Dimasyqi karena tinggal di Damaskus.

Kelahiran
Imam An-Nawawi rahimahullah dilahirkan pada pertengahan bulan Muharram. Namun, ada yang menyatakan bahwa dia dilahirkan pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, tepatnya tahun 631 H di Nawa, sebuah daerah di dataran Hauran, yang termasuk wilayah Damaskus.

Tumbuh Kembang dan Proses Belajar
Imam An-Nawawi rahimahullah diasuh dan dididik atau dibina oleh ayahnya dengan gigih, Terbukti dari sikap sang ayah yang menyuruhnya untuk menuntut ilmu sejak kecil, hingga ia dapat mengkhatamkan AL-Qur'an ketika mendekati usia baligh, Setelah melihat lingkungan di Nawa tidak kondusif lagi untuk belajar, ia dibawa pergi ke Damaskus oleh ayahnya pada tahun 649 H. Pada saat itu, usianya hampir 19 tahun. Sampai akhirnya ia tinggal di sebuah lembaga pendidikan yang bernama Rawahiyah. Di sanalah ia memulai kembali perjalanannya dalam menuntut ilmu.
Imam An-Nawawi rahimahullah tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Ia rajin dan memberi seluruh waktunya untuk mendalami suatu ilmu, sehingga ilmu itupun memberikan sebagian berkahnya. Alhasil, ia sudah menghafal kitab At-Tanbih fii Furuu'isy Syafi'iyyah karya Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam waktu kurang lebih empat setengah bulan. Ia juga telah menghafal seperempat kitab al-Muhadzdzab fil Furuu' pada tahun yang sama.

Setiap hari, Imam An-Nawawi membaca 12 pelajaran (bab ilmu) dalam bentuk syarah dan komentar: dua pelajaran dalam kitab al-Wasiith, satu pelajaran dalam kitab al-Muhadzdzab, satu pelajaran dalam kitab al-Jaami' bainash Shahiihain, satu pelajaran dalam kitab Shahih Muslim, satu pelajaran dalam kitab al-Luma' karya Ibnu Jinni, satu pelajaran dalam kitab Ishlaahul Mantiq, satu pelajaran dalam kitab at-Tashriif, satu lain pelajaran dalam Ushuulul Fiqh, satu pelajaran dalam kitab Asmaa-ur Rijaal, dan satu pelajaran lainnya dalam kitab Ushuluuddin. Ia selalu mengomentari segala bahasan yang berkenaan dengan pelajaran-pelajaran tersebut, baik berupa penjelasan bahasa yang sulit dimengerti, penjabaran ungkapan yang tidak jelas, pemberian harakat pada lafazh-lafazh Arab, maupun penguraian kata-kata yang masih dianggap asing.

Allah subhanahu wata'ala telah memberi berkah kepada Imam An-Nawawi dalam pemanfaatan waktu. Sehingga ia mampu menyusun apa-apa yang disimpulkannya menjadi karya tulis ilmiah; menjadikan karya itu sebagai hasil maksimal dari kesimpulan-kesimpulannya.

(Bersambung)

Share: 31 Sebab Lemahnya Iman

31 Sebab Lemahnya Iman
Hussain Muhammad Syamir
Bismillahirrahmaanirrahiim

Judul Buku: 31 Sebab Lemahnya Iman (Al-Ilmaam fii asbaabi dha'fi)
Penulis : Hussain Muhammad Syamir
Penerjemah : Musthafa Aini
Penerbit :  Darul Haq, Jakarta
Tebal : x+180 hlm; 17,5 cm
Tahun terbit : 2001
ISBN : 979-9137-62-4

Saya sangat ingin membagi judul buku yang sangat menakjubkan ini. Jujur saja, setelah sekian lama saya hanya membaca-baca sekilas alias tidak konsisten, membaca buku ini adalah pilihan yang sangat tepat. Alhamdulillah, mungkin ini adalah buku ke-3 atau ke-4 yang benar-benar saya khatamkan dengan sempurna dimulai dari muqaddimah hingga akhir. Ya, boleh dikata, saya memang tipe orang yang mudah bosan membaca secara konsisten pada satu buku sehingga seringnya membaca setengah lalu meninggalkannya. Yang mempu saya khatamkan berulang-ulang hanyalah kitabullah.
Nah, dengan jumlah halaman yang tidak begitu tebal, lebih bisa dikatakan buku saku; buku ini sangat indah membahas perkara yang kebanyakan manusia lengah di dalamnya. Terutama, kita yang hidup dalam hiruk-pikuk dunia secara umum yang tidak mengkhususkan diri terhadap ilmu ad-dien ini maka buku ini sangat penting untuk kita baca.

Belajar dari Pohon Kurma

Bismillah.

Bulan Ramadhan, entah sudah kali ke berapa kita menghirup sejuknya bulan ini, dan sudah berapa pelajaran yang terekam di sanubari kita mengenai bulan penuh berkah ini. Syukur yang sangat besar terus terucap dari lisan ini sebab kesempatan bertemu dengannya adalah tanda kesempatan rahmat pula yang begitu besar bagi diri.

Ini hanyalah catatan kecil yang kudapatkan selepas bermajelis kemarin. Tentang salah satu perumpamaan dari banyaknya perumpamaan yang Allah berikan dalam kalam-Nya. Yah, dan betapa menakjubkan peumpamaan-perumpamaan yang Allah berikan kepada kita, manusia.
Gambaran ini termaktub dalam Qur'an surah Ibrahim: 24-25

Uang pun Membeli Kebahagiaan



Sumber: Republika.co.id
Di dalam kehidupan, setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Namun demikian, makna dan arti kebahagiaan akan berbeda alias relatif bagi masing-masing mereka. Saking pentingnya kebahagiaan dalam hidup seseorang, banyak buku yang membahas mengenai masalah ini. Sebut saja The Happiness Project (Gretchen Rubin), The Happiness Hypothesis (Jonathan Haidt), Stumbling on Happiness (Daniel Gilbert); dari Indonesia seperti Sabar dan Syukur “bikin hidup lebih bahagia” (Yunus Hanis Syam), Surga dan Bahagia (dr. Inca H. Bintang), Bahagia itu Sederhana (Tukiyo Suryo Atmojo), dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu, bahkan quote yang unik-unik pun dibuat untuk menunjukkan cara mereka memandang kebahagiaan. Contohnya seperti pada akun twitter Happiness is (@damnhappyyy) yang bahkan membuat plesetan sederhana tentang kebahagiaan. Secara alamiah, memang manusia sangat ingin merasakan ketentraman di dalam hatinya dan kebahagiaan seakan menjawab semuanya. Lalu, siapa pula yang menyangka bahwa uang pun dapat membeli kebahagiaan?
Selama ini kita mendengar perkataan orang-orang bahwa uang tidaklah dapat membeli semuanya, terutama kebahagiaan. Tapi, seperti apa maksud “uang membeli kebahagiaan”? Kebahagiaan seperti apa yang dibeli? Mari kita simak beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait hubungan uang dan kebahagiaan yang dilansir dari medicaldaily.com.
Para peneliti pada 27 Februari lalu  menghadiri symposium di Long Branch, Calif, untuk menemukan dan membahas mengenai masalah ini. Simposium yang diadakan dengan tema “Happy Money 2.0: New Insight Into The Relationship Between Money and Well-Being” merupakan acara yang dilakukan untuk merayakan 16 tahun Social Psychology dan Society for Personality. Pada kegiatan ini, dijabarkan 4 paper penelitian yang secara sederhana bertujuan untuk menjawab apakah uang bisa atau tidak membeli kebahagiaan.
Studi 2014 yang dipublikasikan pada Journal of Positive Psychology sebelumnya telah menjawab pertanyaan ini setelah mereka menemukan bahwa orang yang menghabiskan uangnya untuk merasakan pengalaman lebih bahagia daripada menghabiskannya untuk barang-barang material atau properti mewah.  Amit Kumar seorang mahasiswa doctoral Program Psikologi di Cornell University yang mengemukakan lebih lanjut alasan hal ini, yaitu perasaan antisipatif untuk pembelian pengalaman cenderung lebih menyenangkan, tidak terburu-buru dibandingkan perlengkapan atau property mewah  yang kita inginkan untuk dibeli. Hal yang serupa disebutkan oleh Jordi Quoidbach menemukan bahwa harta dan kekayaan yang berlimpah dapat meruntuhkan apresiasi dan mengurangi emosi positif yang dialami pada kehidupan sehari-hari. Anda tahu: banyak uang, banyak masalah. Dalam hal ini uang dalam bentuk property akan tersimpan secara simbolis yang menunjukkan kelimpahan harta si pemilik. Berbeda dengan pengalaman yang tersimpan secara emosional.
Hal ini juga senada disebutkan oleh peneliti dari Harvard Business School, University of Manheim, dan Yale University yang menunjukkan bahwa peningkatan kekayaan tidak seimbang dengan peningkatan kebahagiaan. Faktanya, peneliti berspekulasi bahwa kebahagiaan secara negative berbanding dengan pendapatan.
Pada sebagian besar kasus, menghabiskan uang untuk pengalaman mengarahkan pada kebahagiaan lebih. Lagipula item-item material suatu saat akan rusak.
Menanggapi masalah ini, sekali lagi, tiap orang memiliki kecenderungan tertentu tetapi hidup sederhana memang jauh lebih menentramkan dan menyenangkan, bukan? Teringat dengan seorang Presiden di Uruguay, Jose Mujica, yang dijuluki “Presiden Termiskin di dunia” karena hidupnya yang sederhana. Memberikan uang untuk pengalaman berbagi, pengalaman berharga akan memberikan dampak kebahagiaan pada yang member pula.
Jadi, Apakah Anda siap membeli kebahagiaan?
http://www.medicaldaily.com/money-my-mind-spending-future-experiences-leads-greater-happiness-well-being-323808

Ini salah satu artikel yang sebagian besar isinya adalah terjemahan. MINAT JASA TRANSLATER MURAH ENG-INDO, INDO-ENG. Bisa Nego. email: fatimah.zahra9@gmail.com
:)

Kaki Bau? Euuh, yuk ikuti Tipsnya! (Smelly feet)

Assalamu'alaykum warohmatullah wabarokatuh..

Well, for this post, I just translate into Indonesian. So if you're not from Indonesian, you can see the English translation from the original page at:
http://www.nhs.uk/Livewell/foothealth/Pages/smellyfeet.aspx
http://www.wikihow.com/Get-Rid-of-Foot-Odor

Apa kabar kawan muslimah?
Ya, edisi kali ini edisi khusus muslimah (atau muslim) atau general aja kali yah? Soalnya, pembahasan kali ini berkaitan dengan kebersihan kaki. Dari mata turun ke kaki... eh???

Nah, kawan-kawan biasa nggak mengalami skenario seperti ini?
"Tek... tek... tek..." bunyi gunting kuku saat sedang menggunting kuku kaki.
"Hmm... kok ada bau ngga sedap ya?"(dalam hati)


Nah nah nah... Sebagian besar orang memang sering mengalami yang namanya bau kaki dengan latar belakang yang sama ditengarai seperti bau ketiak, yaitu masalah keringat. Tetapi, ada hal lain yang berkombinasi dengan keringat. Nah, yuk simak penjelasan berikut:


Oh, ya, artikel asli dapat dilihat di:
http://www.nhs.uk/Livewell/foothealth/Pages/smellyfeet.aspx
http://www.wikihow.com/Get-Rid-of-Foot-Odor

Bau Kaki
Secara medis, istilahnya dikenal dengan nama bromodosis, kaki yang bau merupakan masalah tahun belakangan ini. Hal ini dapat menjadi memalukan dan tidak menyenangkan untuk Anda dan orang-orang di sekitar Anda. Penyebab utamanya adalah kaki yang berkeringat berkombinasi dengan penggunaan sepatu yang sama tiap hari.

Kenapa Kaki Berkeringat?
Ada banyak sekali kelenjar keringat pada kaki kita dibandingkan pada bagian tubuh lain. Seseorang dapat mengalami kaki berkeringat disebabkan oleh perubahan suhu atau musim. Tetapi, remaja dan wanita hamil secara khusus lebih cenderung disebabkan adanya perubahan hormonal sehingga mereka akan berkeringat lebih.
Anda juga akan mengalami perspirasi (keringat) jika Anda menggunakan kaki Anda sepanjang hari (karena aktivitas), jika Anda sedang stres, atau sedang mengalami masalah medis yang disebut hyperhidrosis, yang menyebabkan Anda berkeringat lebih dari biasanya. Infeksi fungal (jamur) seperti pada kaki atlet juga dapat menyebabkan bau kaki yang kurang enak.
Berdasarkan penuturan Lorraine Jones, seorang chiropodist (perawat khusus kaki) dan pembicara wanita pada the Society of Chiropodist and Podiatrists, kaki menjadi bau jika keringat tersebut meresap ke dalam sepatu dan belum kering saat Anda gunakan lagi. Nah, bakteri tumbuh dan masuk melalui pori ke kulit lalu mengurai lagi keringatnya. Saat itulah, bau yang tak enak dihasilkan dari penguraian keringat.
"Kaki Anda berkeringat pada sepatu Anda sepanjang hari sehingga menjadi lembab dan akhirnya bakteri tumbuh. bakteri akan terus aktif membelah saat Anda melepas sepatu, khususnya jika Anda menyimpannya pada lemari/rak sepatu yang gelap. Lalu saat Anda memakai kembali sepatu itu keesokan harinya, bahkan walau Anda baru saja mandi, mengenakan sepatu yang masih lembab itu menciptakan kondisi yang sempurna untuk perkembangbiakan mikroba -hangat, gelap, dan lembab"

Siapa yang Sering Mengalaminya?
Semua orang berpotensi, tetapi akan jauh lebih jika Anda:
  • remaja
  • wanita hamil
  • di bawah tekanan emosional atau stres
  • mengalami masalah medis yaitu hiperhidrosis
  • sedang melakukan pengobatan
Tipsnya???

Sedikitnya, menurut WikiHow, ada 3 metode mengatasi masalah bau kaki.
Metode 1: Bersihkan Kaki Anda
1) Gosok kaki Anda. Mungkin terdengar biasa, tetapi gosokan cepat dengan air sabun saat mandi tidaklah cukup. Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan bakteri pada kaki dan sel kulit matinya. Jadi, ketika Anda mencuci kaki, exfoliasi seluruh permukaan kaki dengan handuk, sikat, atau mekanisme abrasif (pengelupasan) lainnya dan gunakanlah sabun antibakteri. Jangan lupa gosokjuga sela jari kaki.
2) Keringkan Kaki Anda. Ketika Anda mengeringkan kaki, keringkanah dengan benar. Kelembaban, baik karena keringat ataupun air, adalah penyebab perkembangbiakan bakteri. Tidak mengapa untuk lama mengeringkan kaki Anda secara detil dan jangan abaikan sela jari kaki.
3) Gunakan hand sanitizer. Mungkin terdengar aneh, tetapi bau yang enak (atau tak ada bau) dari hand sanitizer dapat membunuh cacing pada kaki serta menghambat pertumbuhan mikroba.
4) Gunakan antiperspirant. Antiperspirant yang sama Anda gunakan untuk ketiak dapat pula digunakan untuk kaki. Gunakan pada kaki yang bersih dan kering saat malam dan beri titik yang memiliki jarak untuk tiap olesan antiperspirant.
  • Antiperspirant bekerja dengan cara memblok saluran keringat.
  • Jangan gunakan sesaat sebelum keluar, atau Anda dapat tergelincir atau tidak nyaman mengenakan sepatu.
Gunakan Campuran 1/2 vinegar regular dan 1/2 isopropil alkohol.
Anda dapat mencuci kaki dengan larutan 1/2 cuka/vinegar, 1/2 air untuk mencegah bau yang kurang enak. Tambahkan pula beberapa sendok baking soda dan beberapa tetes minyak thyme untuk menghilangkan bau yang tak enak.
Vinegar berfungsi membunuh fungi/jamur, isopropil alkohol menghambat dan membunuh bakteri.
Gosok kaki Anda dengan salah satu bedak berikut:
  • Bedak talk
  • Baking soda
  • tepung jagung

 ...To be continued untuk metode 2 dan 3

Pages