Home / Pikir
Tampilkan postingan dengan label Pikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikir. Tampilkan semua postingan
Titik Tengah: Kaki-kaki Semut
Kelelahan membuatku merebahkan diri pada lantai di rumah. Saat itu, aku melihat jejeran semut-semut merah. Ehm, aku sedang tidak membahas saintifik semut yang saling bersalaman ketika berjumpa. Saat itu, aku hanya memperhatikan kaki-kaki mungil semut itu.
Ehm, tak terbayang ya betapa mungil dan kecilnya kaki semut. Tapi, uniknya, kaki-kaki mungil itu tak pernah lelah berjalan begitu jauhnnya hanya untuk satu remah roti. Bagi kita, jarak antara ruang tamu ke dapur mungkin cuman berapa langkah saja, tapi, bagi si semut, itu seakan antara Makassar ke Mamuju alias berkilo-kilo jauhnya. Tapi, kaki mungil itu tak pernah menyerah.
Sedikit, aku merasa takjub dan rendah dibandingkan semut-semut itu. Semut-semut itu penuh dengan tawakkal dan penuh rasa syukur kepada Robbnya. Perjalanan yang jauh mungkin tak pelak hanya membuat mereka menemukan makanan yang sedikit. Tapi, yang mereka tahu tetaplah berjuang dan berusaha.
Kita dan semut itu punya satu kesamaan. Kita punya insting untuk bertahan hidup. Tapi dari berbagai sisi, Allah telah melebihkan kita atas semut dengan adanya akal sehat serta ukuran tubuh yang lebih besar. Hanya saja, kadang dalam satu titik, semut mungil itu bisa jadi lebih baik dari kita. Ketika kita telah berputus asa, ketika kita begitu serakah.
Kaki-kaki semut itu mengajar banyak hal kepadaku.
Titik Tengah: Antara "Waktu Belajar" dan "Belajar Waktu"
"Tujuan utama hidup kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Berusaha keras dan biarkan Allah melihatnya. Hasil bukanlah poin utamanya, tapi proseslah yang dilihat-Nya. Tawakkal atau putus asa." (F.A)
Baiklah, mungkin judulnya agak sedikit ngaco kali ya kalau mau dibuatkan perbedaannya. Karena kedua hal tersebut jelas berbeda dan sedikit berbelit-belit. Intinya, saat memutar waktu dan belajar di posisi yang berbeda sebagai subjek maka kita akan tahu bahwa sebenarnya keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Tapi, hasil atau efeknya mungkin akan cukup berbeda.
Waktu dari belajar, waktu tentang belajar. Memanfaatkan waktu untuk belajar. Waktu Belajar.
Sedangkan yang satunya, belajar dari waktu. Belajar tentang waktu. Mengupayakan dan mengoptimalkan diri untuk mengambil pelajaran dari tiap waktu yang berlalu. Belajar waktu.
Keduanya sama-sama baik dan bermanfaat, dan kita tak boleh hanya sekedar memilih salah satu. Ketika kita hanya sekedar memanfaatkan waktu untuk belajar tanpa secara real mengambil pelajaran atas waktu yang telah berlalu, dari pengalaman yang terjadi, dan kehidupan yang kita jalani; mungkin kita akan berhasil, tapi nilainya akan berkurang. Hanya seperti robot yang bekerja atas pelajaran akademik dan mengabaikan sosial. Seperti memaksakan diri menyediakan waktu banyak untuk belajar tapi tak juga membekas.
Sebaliknya, hanya sekedar belajar tentang waktu, belajar dari pengalaman tanpa secara serius memanfaatkan waktu juga hasilnya akan melayang-layang. Hanya sekedar melihat-lihat suasana buruk tapi tidak mau memperbaiki. Tahu rumah berantakan, tetap saja berkutat seperti itu sampai nanti sakit parah baru mau membersihkan dan menjaga sanitasi. Well, nasi udah menjadi bubur.
Saat ada yang mengatakan, "kita nggak tahu apa yang terjadi nanti", itu adalah pesan emas 24 karat. Hari ini walau sulit, kita harus tetap berjuang dan menyerahkan semua hasilnya kepada Allah. Karena benar, kita nggak pernah tahu kemana Allah membawa takdir kita. Jika sesuai yang kita inginkan, alhamdulillah. Namun jika tidak, di sinilah apa yang kita usahakan akan sangat berpengaruh.
Belajar dari waktu membuat perasaanku sedikit bercampur aduk. Awalnya kukira, memanfaatkan waktu untuk mempelajari sesuatu adalah satu hal saja. Tapi, aku lupa. Waktu itu bergerak. Setiap detik akan membawa kita ke suasana berbeda, situasi berbeda. Entah baik atau buruk menurut kita. Dan ketika hanya terfokus pada yang lalu-lalu dan sekedar memanfaatkan waktu maka akan sulit diri kita menjalani masa kini. Belajar dari waktu dulu, kini, dan mungkin tiap saat supaya menambah kebijaksanaan kita.
Pada Jarak Waktu
Pada jarak waktu yang mengilat
Menyilau mata kala tergesa
Menyisa tanya
Meminta asa
Pada jarak waktu yang mengilat
Mencari kata mewakil jiwa
Menggenang atau tenggelam
Senang atau padam
Pada jarak waktu yang mengilat
Dalam hati berintih-rintih
Menatap jauh ilusi
Merasa kini
Hmh, pada jarak waktu yang mengilat
Menyilau mata kala tergesa
Menyisa tanya
Meminta asa
Pada jarak waktu yang mengilat
Mencari kata mewakil jiwa
Menggenang atau tenggelam
Senang atau padam
Pada jarak waktu yang mengilat
Dalam hati berintih-rintih
Menatap jauh ilusi
Merasa kini
Hmh, pada jarak waktu yang mengilat
Titik Tengah: Belajar Naik Motor
Titik Ketiga
Belajar Naik Motor
Hei, apa kau pandai berkendara sepeda motor? Ya? Jika ya, maka kenalkan, aku juga. Jika tidak, yaa dulu pun aku tak bisa tapi sekarang bisa, sih. ^^~
Kau tahu, proses belajar bagiku untuk mampu naik motor seperti sekarang ini (cukup bisa dibilang kompeten) sangat panjang. Dan menurutku, mungkin sebagian besar orang takkan percaya. Aku belajar naik motor selama 3 tahun dulu. Dan selama 3 tahun terlewati itu, kualifikasiku hanyalah: MAMPU. Ya! Hanya sekedar sudah bisa injak gas, rem, dan pegang setir. Itu pun kata mama, setirku sering miring-miring. Boleh dibilang, saat naik motor mungkin aku seperti orang mabuk. Hehe.
Lama, bukan?
Share: 31 Sebab Lemahnya Iman
![]() |
| 31 Sebab Lemahnya Iman Hussain Muhammad Syamir |
Judul Buku: 31 Sebab Lemahnya Iman (Al-Ilmaam fii asbaabi dha'fi)
Penulis : Hussain Muhammad Syamir
Penerjemah : Musthafa Aini
Penerbit : Darul Haq, Jakarta
Tebal : x+180 hlm; 17,5 cm
Tahun terbit : 2001
ISBN : 979-9137-62-4
Saya sangat ingin membagi judul buku yang sangat menakjubkan ini. Jujur saja, setelah sekian lama saya hanya membaca-baca sekilas alias tidak konsisten, membaca buku ini adalah pilihan yang sangat tepat. Alhamdulillah, mungkin ini adalah buku ke-3 atau ke-4 yang benar-benar saya khatamkan dengan sempurna dimulai dari muqaddimah hingga akhir. Ya, boleh dikata, saya memang tipe orang yang mudah bosan membaca secara konsisten pada satu buku sehingga seringnya membaca setengah lalu meninggalkannya. Yang mempu saya khatamkan berulang-ulang hanyalah kitabullah.
Nah, dengan jumlah halaman yang tidak begitu tebal, lebih bisa dikatakan buku saku; buku ini sangat indah membahas perkara yang kebanyakan manusia lengah di dalamnya. Terutama, kita yang hidup dalam hiruk-pikuk dunia secara umum yang tidak mengkhususkan diri terhadap ilmu ad-dien ini maka buku ini sangat penting untuk kita baca.
Titik Tengah: Bermula dari Sini
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ada saat keikhlasan kita diuji. Mungkin bukan saat kita melakukan kegiatan baik itu, mungkin beberapa lama setelahnya. Saat puing memori amal itu menyeruak, menyesakkan dada. Meminta keadilan terhadap sesuatu yang tak mungkin lagi terputar balik.
Ada saat keikhlasan kita diuji. Mungkin bukan saat kita melakukan kegiatan baik itu, mungkin beberapa lama setelahnya. Saat puing memori amal itu menyeruak, menyesakkan dada. Meminta keadilan terhadap sesuatu yang tak mungkin lagi terputar balik.
Titik Pertengahan: Hidup
Bismillah
Dengan nama Allah
Ar-rahmaan
Yang Maha Pemurah
Ar-rahiim
Yang Maha Penyayang
*******************
Detik ini, aku ingin mulai menuliskan kisah yang rasanya cukup lama terpendam. Pernah menjadi tulisan yang ketika kubaca kembali membuatku tersadar, betapa naifnya diriku.
Rasanya, sudah beberapa lama dan berkali-kali aku melalui fase ini, fase jatuh bangun secara mental dan akal.
Untukmu, yang membaca ini. Mungkin kenal, mungkin pula tidak. Tapi, bagaimanapun, aku ingin membaginya. Dengan satu tujuan saja. Untuk membagi pelajaran berharga selama 20 tahun lebih kehidupanku.
Aku bukanlah siapa-siapa. Sungguh.
Tanpa prestasi, tanpa presisi, tanpa gelar kehormatan. Hanya anak manusia, sama sepertimu. Bahkan jika kau telah mengenalku pun. Aku sangat meragukannya. Heh, rasanya lucu. Bahkan dengan membaca tulisanku ini pun aku tak menjamin bahwa kau sungguh akan mengenalku. Karena aku tak bermaksud memperkenalkan diriku melalui tulisan ini, juga tak bermaksud dikenal.
Dengan tulisan ini aku hanya berharap, kau dapat mengambil pelajaran. Dari satu pasang mata yang menatap dunia. Kau melihat dengan mataku memandang dunia. Dari satu tulisan sederhana ini.
Jadi, buanglah dulu citra diriku yang telah kau kenal. Anggaplah kau tak mengenalku. Dan rasai tulisan ini sebagai dirimu.
*******************
Belajar dari Pohon Kurma
Bismillah.
Bulan Ramadhan, entah sudah kali ke berapa kita menghirup sejuknya bulan ini, dan sudah berapa pelajaran yang terekam di sanubari kita mengenai bulan penuh berkah ini. Syukur yang sangat besar terus terucap dari lisan ini sebab kesempatan bertemu dengannya adalah tanda kesempatan rahmat pula yang begitu besar bagi diri.
Ini hanyalah catatan kecil yang kudapatkan selepas bermajelis kemarin. Tentang salah satu perumpamaan dari banyaknya perumpamaan yang Allah berikan dalam kalam-Nya. Yah, dan betapa menakjubkan peumpamaan-perumpamaan yang Allah berikan kepada kita, manusia.
Gambaran ini termaktub dalam Qur'an surah Ibrahim: 24-25
Bulan Ramadhan, entah sudah kali ke berapa kita menghirup sejuknya bulan ini, dan sudah berapa pelajaran yang terekam di sanubari kita mengenai bulan penuh berkah ini. Syukur yang sangat besar terus terucap dari lisan ini sebab kesempatan bertemu dengannya adalah tanda kesempatan rahmat pula yang begitu besar bagi diri.
Ini hanyalah catatan kecil yang kudapatkan selepas bermajelis kemarin. Tentang salah satu perumpamaan dari banyaknya perumpamaan yang Allah berikan dalam kalam-Nya. Yah, dan betapa menakjubkan peumpamaan-perumpamaan yang Allah berikan kepada kita, manusia.
Gambaran ini termaktub dalam Qur'an surah Ibrahim: 24-25
Hidup Menunjukkan Cakarnya
Hidup menunjukkan cakarnya saat titik kedewasaan ingin kita raih. Tiap orang akan melihat cakar berbeda. Dan akan menghadapi cakar itu sesuai pola pikirnya. Peringatan dan cara menghadapinya sebenarnya telah diberikan, hanya saja, ada yang mengambil dan ada yang tidak mengindahkan.
Hidup telah menunjukkan cakarnya. Karena masing-masing orang telah melihatnya. Di tiap sudut kamar sebelum terlelap, auman yang memekakkan telinga akan keganasan seakan menjadi pelengkap harian.
Hati kadang begitu naif. Menyaksikan segala sudut yang memungkinkan sehingga kadang membuatnya lemah. Prinsip. Entah prinsip apa yang ia harus pegang untuk menguatkan pundak dan langkah. Kadang, itu yang terbetik sejenak.
Lemah. Ya. Proses menguatkan diri, mungkin sedang berjalan saat menyadari kelemahan. Lemah menghadapi cengkraman cakar yang bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Tapi, manusia punya sifat kuat bertahan hidup. Sayangnya, tekad kuat takkan berkutik saat semuanya terlambat.
Follow me:
http://zaza17azza.tumblr.com/
Uang pun Membeli Kebahagiaan
![]() |
| Sumber: Republika.co.id |
Di dalam
kehidupan, setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Namun demikian, makna
dan arti kebahagiaan akan berbeda alias relatif bagi masing-masing mereka.
Saking pentingnya kebahagiaan dalam hidup seseorang, banyak buku yang membahas
mengenai masalah ini. Sebut saja The
Happiness Project (Gretchen Rubin), The
Happiness Hypothesis (Jonathan Haidt), Stumbling
on Happiness (Daniel Gilbert); dari Indonesia seperti Sabar dan Syukur “bikin hidup lebih bahagia” (Yunus Hanis Syam), Surga dan Bahagia (dr. Inca H. Bintang),
Bahagia itu Sederhana (Tukiyo Suryo
Atmojo), dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu, bahkan quote yang unik-unik pun dibuat untuk menunjukkan cara mereka
memandang kebahagiaan. Contohnya seperti pada akun twitter Happiness is (@damnhappyyy) yang bahkan membuat plesetan sederhana
tentang kebahagiaan. Secara alamiah, memang manusia sangat ingin merasakan
ketentraman di dalam hatinya dan kebahagiaan seakan menjawab semuanya. Lalu,
siapa pula yang menyangka bahwa uang pun dapat membeli kebahagiaan?
Selama ini kita
mendengar perkataan orang-orang bahwa uang tidaklah dapat membeli semuanya,
terutama kebahagiaan. Tapi, seperti apa maksud “uang membeli kebahagiaan”?
Kebahagiaan seperti apa yang dibeli? Mari kita simak beberapa penelitian yang
telah dilakukan terkait hubungan uang dan kebahagiaan yang dilansir dari
medicaldaily.com.
Para peneliti
pada 27 Februari lalu menghadiri
symposium di Long Branch, Calif, untuk menemukan dan membahas mengenai masalah
ini. Simposium yang diadakan dengan tema “Happy Money 2.0: New Insight Into The Relationship Between Money and Well-Being”
merupakan acara yang dilakukan untuk merayakan 16 tahun Social Psychology dan Society
for Personality. Pada kegiatan ini, dijabarkan 4 paper penelitian yang secara
sederhana bertujuan untuk menjawab apakah uang bisa atau tidak membeli
kebahagiaan.
Studi 2014 yang
dipublikasikan pada Journal of Positive
Psychology sebelumnya telah menjawab pertanyaan ini setelah mereka
menemukan bahwa orang yang menghabiskan uangnya untuk merasakan pengalaman
lebih bahagia daripada menghabiskannya untuk barang-barang material atau
properti mewah. Amit Kumar seorang
mahasiswa doctoral Program Psikologi di Cornell University yang mengemukakan
lebih lanjut alasan hal ini, yaitu perasaan antisipatif untuk pembelian
pengalaman cenderung lebih menyenangkan, tidak terburu-buru dibandingkan
perlengkapan atau property mewah yang
kita inginkan untuk dibeli. Hal yang serupa disebutkan oleh Jordi Quoidbach
menemukan bahwa harta dan kekayaan yang berlimpah dapat meruntuhkan apresiasi
dan mengurangi emosi positif yang dialami pada kehidupan sehari-hari. Anda
tahu: banyak uang, banyak masalah. Dalam hal ini uang dalam bentuk property
akan tersimpan secara simbolis yang menunjukkan kelimpahan harta si pemilik. Berbeda
dengan pengalaman yang tersimpan secara emosional.
Hal ini juga senada
disebutkan oleh peneliti dari Harvard Business School, University of Manheim,
dan Yale University yang menunjukkan bahwa peningkatan kekayaan tidak seimbang
dengan peningkatan kebahagiaan. Faktanya, peneliti berspekulasi bahwa
kebahagiaan secara negative berbanding dengan pendapatan.
Pada sebagian
besar kasus, menghabiskan uang untuk pengalaman mengarahkan pada kebahagiaan
lebih. Lagipula item-item material suatu saat akan rusak.
Menanggapi
masalah ini, sekali lagi, tiap orang memiliki kecenderungan tertentu tetapi
hidup sederhana memang jauh lebih menentramkan dan menyenangkan, bukan?
Teringat dengan seorang Presiden di Uruguay, Jose Mujica, yang dijuluki
“Presiden Termiskin di dunia” karena hidupnya yang sederhana. Memberikan uang
untuk pengalaman berbagi, pengalaman berharga akan memberikan dampak
kebahagiaan pada yang member pula.
Jadi, Apakah
Anda siap membeli kebahagiaan?
http://www.medicaldaily.com/money-my-mind-spending-future-experiences-leads-greater-happiness-well-being-323808
Ini salah satu artikel yang sebagian besar isinya adalah terjemahan. MINAT JASA TRANSLATER MURAH ENG-INDO, INDO-ENG. Bisa Nego. email: fatimah.zahra9@gmail.com
:)
Antara Ikan dan Pohon
Bismillah.
Bagaimana kabarnya?
Mudah-mudahan wajahnya senantiasa dihiasi senyuman dan hatinya diliputi kebahagiaan.
Yah, postingan sebelumnya aku udah mulai masuk ranah Farmasi. Perkenalan singkat tentang Farmasi walupun "mungkin"" pada akhirnya adik-adik atau teman-teman malah tambah nggak mengerti. Hehe.
Ya, itulah kehidupan, banyak yang tidak kita mengerti.
Baiklah, ngomong-ngomong soal kuliah, sekarang mungkin adalah masa-masa penuh tantangan yang mendebarkan bagi setiap insan perkuliahan. Walaupun kesannya lebuay, tapi memang. Percayalah. Hehe.
Ya, sementara mengurus-mengurus sesuatu yang diperlukan untuk mendapatkan gelas sarjana (*ups salah), gelar sarjana maksudnya. Mungkin terkesan terlambat bagi mereka yang merasa kemudaan lulus (soalnya, udah ada beberapa rekan sejawat-eh- yang mendahuluiku, bukan mendahului ke alam sana ya, hiks-read). Tapi, tidak mengapa. Kau tahu, tiap orang memiliki potensi, petisi, prokrastinasi (eh), ehm tribulasi maksudnya, sendiri-sendiri. Yah, ada memang yang dari awal memiliki tekad yang kuat, telah menetapkan mimpinya jauh sebelum orang lain memikirkannya, ada pula yang sembari berjalannya waktu, barulah ia tahu bahwa ia bukanlah monyet tetapi ikan.
Maksudnya? Hehe, bukannya mau ngehina. Perrnah dengar 'kan pepatah, seekor ikan tak akan pernah berhasil memanjat pohon. Atau yah kurang lebih pepatah yang demikian lah. Maksudnya, saat kita tak menyadari potensi, kita ingin meraih segalanya, menjadi "potensi orang lain", menjadi bukan diri kita sendiri. Karena bahkan, kita tak mengenal siapa diri kita.
Nah, kurang lebih seperti itulah yang kualami, menjadi Fase kedua.
Kesyukuranku yang sangat besar adalah karena Ilmu Agama menyelamatkanku dari menjadi pribadi yang putus asa menjadi orang yang selalu mengambil pelajaran.
Hidup itu belajar. Belajar bahkan dari pelajaran terpahit dalam hidup kita. Saat kita mencoba untuk mencari tahu karakter kita, mencari tahu potensi dan kesempatan yang mungkin untuk kita dapatkan walaupun pada akhirnya JATUH karena berbagai alasan dan kendala.
Tetapi, kau tahu, saat Allah berfirman, "Maka sesunguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Bersama kesulitan itu ada kemudahan" (QS 94:5-6), dan kau mencoba MEMBUKA MATA HATIMU. Mencoba melihat segala kebaikan Allah ta'ala dan PERCAYA tentang hal itu. Maka tiba-tiba kau tahu, bahwa solusi ternyata terbuka lebar, bahwa dunia ini tidaklah selebar daun kelor, bahwa kau memang sangat membutuhkan-Nya untuk menuntunmu.
Dan dari situlah, aku belajar banyak. Walaupun aku tahu, sebagai seorang anak muda (hehe, masih muda lah) ke depannya aku pasti masih harus banyak belajar lagi. Maka biarlah ini menjadi reminder ku kelak. Aku belajar, bahwa mimpi yang selama ini kita cari, potensi yang selama ini kita cari, sebenarnya sudah ada di sana. Tentang mimpi, maka kau hanya PERLU MENETAPKANNYA sekarang. Tentang potensi, kau hanya HARUS MENGASAHNYA lebih dalam. Aku yakin tiap kita sudah memiliki sesuatu yang kita sadari sebagai sebuah kelebihan, sekecil apapun itu!!! Tetapi, ketika kita mengasahnya untuk mencapai mimpi, maka itu akan membuat kita seperti naik JET. Yah, setidaknya jet akan lebih cepat.
Memang untuk mimpi jangka panjang, aku belum bisa berkata banyak, tetapi, untuk mimpi-mimpi jangka pendek, Allah telah memudahkannya untukku. Maka tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah!!!
Kau tahu kan, kalau Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam pernah bersabda, "Jika ingin bercita-cita, bercita-citalah Surga Firdaus!" Surga tertinggi. Kenapa? Karena cita-cita tinggi yang jelas akan memotivasi lebih kuat.
Rasulullah tidak hanya mengatakan raihlah surga, karena hal itu akan seperti--> saya mau sukses. Kenapa? Ya, surga itu banyak. Bahkan surga terendahpun surga, bahkan menjadi orang terakhir masuk surga pun ya masuk surga juga. Sama seperti orang yang mengatakan cita-citanya hanya untuk sukses. Ya, nonton TV di rumah pun sebenanrnya sukses, sukses nonton TV. Sukses itu banyak! Dan ketidakjelasan hanya akan membuat kita linglung.
Berharaplah surga firdaus! Supaya memotivasi kita untuk senantiasa beramal sebaik-baiknya, memperbaiki keikhlasan sebaik-baiknya, menjadi orang yang paling bertakwa. Bukankah itu mulia? Dan jauh lebih memotivasi dibanding hanya sekedar menginginkan surga, sekedar keinginan sehingga usahanya pun seadanya?
Begitupula untuk meraih kesuksesan di dunia ini.
Kenapa harus sukses di dunia?
Karena ummat Islam memang harus berjaya!
Hanya saja ya perlu ingat, bahwa AKHIRATlah tujuan dan yang ada di hati kita. Maka dunia akan mengikut.
Jadi ya:
No 1. Akhirat
Selanjutnya-->dunia ngikut. Tapi kita butuh usaha juga. Jadi ya, kita juga perlu menetapkan cita di dunia kita. Minimal yah planning. :)
Jadi antara Ikan dan Pohon, yah, untuk meraih cita yang udah kita tetapkan, ya itu tadi, kalau kamu ikan ya sadar aja kalau tempatnya di air dan jangan mau ikut-ikutan monyet manjat-manjat pohon. Moga dimengerti yah. Hehe
Wallohu 'alam
*kritik dan saran sangat diharapkan. Let's share.
Bagaimana kabarnya?
Mudah-mudahan wajahnya senantiasa dihiasi senyuman dan hatinya diliputi kebahagiaan.
Yah, postingan sebelumnya aku udah mulai masuk ranah Farmasi. Perkenalan singkat tentang Farmasi walupun "mungkin"" pada akhirnya adik-adik atau teman-teman malah tambah nggak mengerti. Hehe.
Ya, itulah kehidupan, banyak yang tidak kita mengerti.
Baiklah, ngomong-ngomong soal kuliah, sekarang mungkin adalah masa-masa penuh tantangan yang mendebarkan bagi setiap insan perkuliahan. Walaupun kesannya lebuay, tapi memang. Percayalah. Hehe.
Ya, sementara mengurus-mengurus sesuatu yang diperlukan untuk mendapatkan gelas sarjana (*ups salah), gelar sarjana maksudnya. Mungkin terkesan terlambat bagi mereka yang merasa kemudaan lulus (soalnya, udah ada beberapa rekan sejawat-eh- yang mendahuluiku, bukan mendahului ke alam sana ya, hiks-read). Tapi, tidak mengapa. Kau tahu, tiap orang memiliki potensi, petisi, prokrastinasi (eh), ehm tribulasi maksudnya, sendiri-sendiri. Yah, ada memang yang dari awal memiliki tekad yang kuat, telah menetapkan mimpinya jauh sebelum orang lain memikirkannya, ada pula yang sembari berjalannya waktu, barulah ia tahu bahwa ia bukanlah monyet tetapi ikan.
Maksudnya? Hehe, bukannya mau ngehina. Perrnah dengar 'kan pepatah, seekor ikan tak akan pernah berhasil memanjat pohon. Atau yah kurang lebih pepatah yang demikian lah. Maksudnya, saat kita tak menyadari potensi, kita ingin meraih segalanya, menjadi "potensi orang lain", menjadi bukan diri kita sendiri. Karena bahkan, kita tak mengenal siapa diri kita.
Nah, kurang lebih seperti itulah yang kualami, menjadi Fase kedua.
Kesyukuranku yang sangat besar adalah karena Ilmu Agama menyelamatkanku dari menjadi pribadi yang putus asa menjadi orang yang selalu mengambil pelajaran.
Hidup itu belajar. Belajar bahkan dari pelajaran terpahit dalam hidup kita. Saat kita mencoba untuk mencari tahu karakter kita, mencari tahu potensi dan kesempatan yang mungkin untuk kita dapatkan walaupun pada akhirnya JATUH karena berbagai alasan dan kendala.
Tetapi, kau tahu, saat Allah berfirman, "Maka sesunguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Bersama kesulitan itu ada kemudahan" (QS 94:5-6), dan kau mencoba MEMBUKA MATA HATIMU. Mencoba melihat segala kebaikan Allah ta'ala dan PERCAYA tentang hal itu. Maka tiba-tiba kau tahu, bahwa solusi ternyata terbuka lebar, bahwa dunia ini tidaklah selebar daun kelor, bahwa kau memang sangat membutuhkan-Nya untuk menuntunmu.
Dan dari situlah, aku belajar banyak. Walaupun aku tahu, sebagai seorang anak muda (hehe, masih muda lah) ke depannya aku pasti masih harus banyak belajar lagi. Maka biarlah ini menjadi reminder ku kelak. Aku belajar, bahwa mimpi yang selama ini kita cari, potensi yang selama ini kita cari, sebenarnya sudah ada di sana. Tentang mimpi, maka kau hanya PERLU MENETAPKANNYA sekarang. Tentang potensi, kau hanya HARUS MENGASAHNYA lebih dalam. Aku yakin tiap kita sudah memiliki sesuatu yang kita sadari sebagai sebuah kelebihan, sekecil apapun itu!!! Tetapi, ketika kita mengasahnya untuk mencapai mimpi, maka itu akan membuat kita seperti naik JET. Yah, setidaknya jet akan lebih cepat.
![]() |
| Album pribadi: mimpi dan cita |
Memang untuk mimpi jangka panjang, aku belum bisa berkata banyak, tetapi, untuk mimpi-mimpi jangka pendek, Allah telah memudahkannya untukku. Maka tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah!!!
Kau tahu kan, kalau Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam pernah bersabda, "Jika ingin bercita-cita, bercita-citalah Surga Firdaus!" Surga tertinggi. Kenapa? Karena cita-cita tinggi yang jelas akan memotivasi lebih kuat.
Rasulullah tidak hanya mengatakan raihlah surga, karena hal itu akan seperti--> saya mau sukses. Kenapa? Ya, surga itu banyak. Bahkan surga terendahpun surga, bahkan menjadi orang terakhir masuk surga pun ya masuk surga juga. Sama seperti orang yang mengatakan cita-citanya hanya untuk sukses. Ya, nonton TV di rumah pun sebenanrnya sukses, sukses nonton TV. Sukses itu banyak! Dan ketidakjelasan hanya akan membuat kita linglung.
Berharaplah surga firdaus! Supaya memotivasi kita untuk senantiasa beramal sebaik-baiknya, memperbaiki keikhlasan sebaik-baiknya, menjadi orang yang paling bertakwa. Bukankah itu mulia? Dan jauh lebih memotivasi dibanding hanya sekedar menginginkan surga, sekedar keinginan sehingga usahanya pun seadanya?
Begitupula untuk meraih kesuksesan di dunia ini.
Kenapa harus sukses di dunia?
Karena ummat Islam memang harus berjaya!
Hanya saja ya perlu ingat, bahwa AKHIRATlah tujuan dan yang ada di hati kita. Maka dunia akan mengikut.
Jadi ya:
No 1. Akhirat
Selanjutnya-->dunia ngikut. Tapi kita butuh usaha juga. Jadi ya, kita juga perlu menetapkan cita di dunia kita. Minimal yah planning. :)
Jadi antara Ikan dan Pohon, yah, untuk meraih cita yang udah kita tetapkan, ya itu tadi, kalau kamu ikan ya sadar aja kalau tempatnya di air dan jangan mau ikut-ikutan monyet manjat-manjat pohon. Moga dimengerti yah. Hehe
Wallohu 'alam
![]() |
| Sumber: Google image, shutterstock |
*kritik dan saran sangat diharapkan. Let's share.
Let's PLAN!
Aku pernah dengar:
"Orang yang gagal merencanakan adalah orang yang merencanakan kegagalan"
Baiklah....
Assalamu'alaykum warohmatullah wabarokatuh.. ^_^ ..
Masih di edisi Insomniaku. (Padahal baru di edisi pertama, ya?)
Tapi memang hampir sebulan (atau lebih kali ya) aku insomnia berat. Alhasil, yah, banyaklah yang amburadul. Insomnianya ada kaitan dengan sakitku sih... Hft.
Tapi ngga papalah.Untuk melepas lelah (karena jujur aku udah sangat amat lelah), boleh juga nulis-nulis dikit. Hehe. I AM BACK, Darling...
Terkait dengan Planning. Aku tidak memastikan kalian (readers-ku) semua adalah orang yang gemar planning. Bahkan boleh jadi, quote di atas sering kalian dengar tapi ngga tersentuh juga membuat plan. Well, ngga papa. (Apa sih?)
Memang ngga semua orang diberkahi menjadi seorang planner sejati. Bahkan aku-pun masih butuh kedisiplinan dalam hal planning itu. Tapi, aku yakin, kalian semua PASTI mempunyai sesuatu yang kalian inginkan. Entah bisikan setan kah (eh.. maksudku bisikan hati), sedikit terbersit di pikiran kah, atau sekedar impian eceng-eceng anak muda zaman sekarang (cie yang tua). ARTINYA, sebenarnya kalian semua (read: kita) mempunyai PLAN..ning yang tidak kita sadari.
Cuman bedanya, ada di antara kita yang mengatur/ memenej nya dan ada yang enggak. Kalo dibahasa-indonesiakan, mereka yang me-menej-nya disebut "mengejar impian" sedangkan mereka yang enggak disebut "ngayal"!!
Seperti misalnya, "aduh pengen deh kaya"
Itu mulu diulang-ulang tiap hari di hidupnya seakan menjadi mantra hariannya. BUT, no action. Gimana mau eksyen, wong apa yang mau di-eksyen-in aja masih ngga ada. Artinya ya... cuman ngayal dong.
Eits, hati-hati lho ya! Soalnya banyak ngayal itu pintu masuknya setan juga:
"Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar- benar memotongnya , dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya “.Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa’ (4) : 119)
“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad (47) : 25)
Nah...nah...
Jadi sebenarnya, ngga papa kok kita menginginkan sesuatu tetapi jangan sampai itu hanya sekedar angan belaka. Mungkin dari situlah quote itu muncul. Supaya kita ngga menjadi orang-orang gagal dan digagalkan. Sebab, Islam pun telah menyuruh kita untuk memperhatikan plan kita, tentunya planning ini adalah planning TERBESAR yang harus kita siapkan. karena gagal di dunia deritanya sementara, tapi gagal di akhirat deritanya SELAMANYA Bro Sis!!!
"“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan segala sesuatu yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesunguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah kamu kerjakan” (QS.59:18)
Jadi sebenarnya, di sini yang ingin kukatakan adalah...
Kalau hari ini kamu belum membuat Planning atas impianmu, mulailah untuk membuatnya! Nggak Usah deh 5 tahun, 10 tahun ke depan. Buat saja untuk hari besok! Ya, untuk sehari saja! Lalu, coba kita cek-cek ulang deh sebelum tidur di hari itu, apakah ada kebaikan walaupun sangat kecil yang kita lakukan dan itu adalah tambahan dari hari kemarin??
Sebab,
Jika hari ini SAMA dengan kemarin, kita RUGI. RUGI,
Jika hari ini LEBIH BAIK dari kemarin, kita UNTUNG. UNTUNG.
Jika hari ini LEBIH BURUK dari kemarin, kita CELAKA. CELAKA.
Itu rumus sederhana. Ya, moga-moga bisa sukses dunia akhirat.
Nah, teman dan sodara, ayo kita sama-sama merencanakan kesuksesan. Dunia dan Akhirat tentunya.
Oh ya satu lagi. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan! Sebab ada yang masuk surga hanya dengan menyingkirkan duri di jalan. Lagipula Allah mencintai amalan yang kontinyu walaupun kecil.
Salam Muda.
Love
"Orang yang gagal merencanakan adalah orang yang merencanakan kegagalan"
Baiklah....
Assalamu'alaykum warohmatullah wabarokatuh.. ^_^ ..
Masih di edisi Insomniaku. (Padahal baru di edisi pertama, ya?)
Tapi memang hampir sebulan (atau lebih kali ya) aku insomnia berat. Alhasil, yah, banyaklah yang amburadul. Insomnianya ada kaitan dengan sakitku sih... Hft.
Tapi ngga papalah.Untuk melepas lelah (karena jujur aku udah sangat amat lelah), boleh juga nulis-nulis dikit. Hehe. I AM BACK, Darling...
Terkait dengan Planning. Aku tidak memastikan kalian (readers-ku) semua adalah orang yang gemar planning. Bahkan boleh jadi, quote di atas sering kalian dengar tapi ngga tersentuh juga membuat plan. Well, ngga papa. (Apa sih?)
Memang ngga semua orang diberkahi menjadi seorang planner sejati. Bahkan aku-pun masih butuh kedisiplinan dalam hal planning itu. Tapi, aku yakin, kalian semua PASTI mempunyai sesuatu yang kalian inginkan. Entah bisikan setan kah (eh.. maksudku bisikan hati), sedikit terbersit di pikiran kah, atau sekedar impian eceng-eceng anak muda zaman sekarang (cie yang tua). ARTINYA, sebenarnya kalian semua (read: kita) mempunyai PLAN..ning yang tidak kita sadari.
Cuman bedanya, ada di antara kita yang mengatur/ memenej nya dan ada yang enggak. Kalo dibahasa-indonesiakan, mereka yang me-menej-nya disebut "mengejar impian" sedangkan mereka yang enggak disebut "ngayal"!!
Seperti misalnya, "aduh pengen deh kaya"
Itu mulu diulang-ulang tiap hari di hidupnya seakan menjadi mantra hariannya. BUT, no action. Gimana mau eksyen, wong apa yang mau di-eksyen-in aja masih ngga ada. Artinya ya... cuman ngayal dong.
Eits, hati-hati lho ya! Soalnya banyak ngayal itu pintu masuknya setan juga:
"Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar- benar memotongnya , dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya “.Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa’ (4) : 119)
“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad (47) : 25)
Nah...nah...
Jadi sebenarnya, ngga papa kok kita menginginkan sesuatu tetapi jangan sampai itu hanya sekedar angan belaka. Mungkin dari situlah quote itu muncul. Supaya kita ngga menjadi orang-orang gagal dan digagalkan. Sebab, Islam pun telah menyuruh kita untuk memperhatikan plan kita, tentunya planning ini adalah planning TERBESAR yang harus kita siapkan. karena gagal di dunia deritanya sementara, tapi gagal di akhirat deritanya SELAMANYA Bro Sis!!!
"“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan segala sesuatu yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesunguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah kamu kerjakan” (QS.59:18)
Jadi sebenarnya, di sini yang ingin kukatakan adalah...
Kalau hari ini kamu belum membuat Planning atas impianmu, mulailah untuk membuatnya! Nggak Usah deh 5 tahun, 10 tahun ke depan. Buat saja untuk hari besok! Ya, untuk sehari saja! Lalu, coba kita cek-cek ulang deh sebelum tidur di hari itu, apakah ada kebaikan walaupun sangat kecil yang kita lakukan dan itu adalah tambahan dari hari kemarin??
Sebab,
Jika hari ini SAMA dengan kemarin, kita RUGI. RUGI,
Jika hari ini LEBIH BAIK dari kemarin, kita UNTUNG. UNTUNG.
Jika hari ini LEBIH BURUK dari kemarin, kita CELAKA. CELAKA.
Itu rumus sederhana. Ya, moga-moga bisa sukses dunia akhirat.
Nah, teman dan sodara, ayo kita sama-sama merencanakan kesuksesan. Dunia dan Akhirat tentunya.
Oh ya satu lagi. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan! Sebab ada yang masuk surga hanya dengan menyingkirkan duri di jalan. Lagipula Allah mencintai amalan yang kontinyu walaupun kecil.
Salam Muda.
Love
Nama Panggilannya, HARAPAN
Aku memuji Allah atas nikmatNya padaku
Semoga kau juga merasakan nikmat Allah padamu..
Entah nikmat kebaikan atau ujian..:)
Keduanya tetaplah nikmat dariNya
Ya, nama panggilannya adalah harapan
Ia harus kau kenali dengan dalam
Sebab, tanpanya kau akan seperti mayat hidup
Hidup segan mati tak mau
Dan juga sebab, ia selalu ada untukmu walau kau tak menyadarinya
Ia selalu ingin menjadi sahabatmu
Kawan, ia adalah hadiah dari Allah untukmu
Allah selalu membuka harapan untukmu
Seburuk apapun masa lalumu
Atau seburuk apapun dirimu hari ini
Ketika hari berlalu dan kau masih bertemu dengan hari itu, seketika itu pula artinya Allah masih memberimu kesempatan bertemu dengan'nya'
Nama panggilannya adalah harapan
Tiap orang memiliki masa-masa kelam kehidupannya
Tak terkecuali sahabat Rasulullah, masa kelam mereka adalah ketika belum memeluk Islam
Bahkan ketika berada dalam Islam, turun naiknya iman memang adalah hal yang niscaya
Tetapi Allah telah menjamin surga untuk mereka
Dan yang perlu kau ketahui adalah...
Kau tak sendiri
Dan ia selalu menanti untuk kau sadari
Sebagaimana makna yang dalam pada salah satu sabda rasulullah
"Bahkan jika esok kiamat dan engkau memegang sebutir biji kurma,tanamlah!"
Ya, bahkan jika ketakutan akan masa depan yang boleh jadi tak sesuai harapanmu akan kau lalui, tetaplah berusaha! Tetaplah berbaik sangka pada Rabbmu,. Sebab pahala dan rahmat Dia tetapkan atas usahamu..
Maka, kawan, aku bertanya kepadamu dengan mengutip firman llah:
"Belumkah tiba waktunya bagi orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?"(QS Al-hadiid:16)
Harapan untuk meraih surga-Nya
Harapan untuk menjadi manusia yang berguna untuk-Nya
Harapan untuk memberi kebaikan pada dunia, dan terlebih akhirat kita
“Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad Darimi)
"Tiap bani adam melakukan dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah yang bertaubat"(HR. Bukhari
Tidak Mau Belajar, Tidak Usah Hidup! [part 1]
Bismillahirrohmaanirrohiim....
Yuk kita memuji Allah ta'ala dahulu atas segala nikmat-Nya. Nikmat mata yang begitu besar, nikmat tubuh, nikmat udara, dan nikmat lain yang takkan mampu saya sebutkan. Dan tentunya, nikmat terbesar, nikmat Islam dan Iman yang menetap dalam hati kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk kekasih Allah yang mulia, Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam beserta sahabat dan seluruh pengikut beliau.
Dinamika kehidupan manusia membutuhkan sebuah proses yang besar yang akan mendukung nilai kehidupannya. Proses yang takkan pernah lepas bagi mereka yang senantiasa menginginkan kualitas yang baik bagi kehidupannya. Proses yang takkan pernah melepaskannya, menjadikan predikat bagi dirinya selama ia hidup. Proses yang membuat kita mulia dan diangkat derajatnya oleh Allah ta'ala. Proses yang kita kenal "BELAJAR".
Allah ta'ala telah banyak memuji dan mengangkat orang-orang yang berilmu, yang berakal, yang mau mengambil pelajaran. Di salah satunya adalah firman Allah ta'ala di Q,S Al-Mujaadilah:11
Yuk kita memuji Allah ta'ala dahulu atas segala nikmat-Nya. Nikmat mata yang begitu besar, nikmat tubuh, nikmat udara, dan nikmat lain yang takkan mampu saya sebutkan. Dan tentunya, nikmat terbesar, nikmat Islam dan Iman yang menetap dalam hati kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk kekasih Allah yang mulia, Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam beserta sahabat dan seluruh pengikut beliau.
Dinamika kehidupan manusia membutuhkan sebuah proses yang besar yang akan mendukung nilai kehidupannya. Proses yang takkan pernah lepas bagi mereka yang senantiasa menginginkan kualitas yang baik bagi kehidupannya. Proses yang takkan pernah melepaskannya, menjadikan predikat bagi dirinya selama ia hidup. Proses yang membuat kita mulia dan diangkat derajatnya oleh Allah ta'ala. Proses yang kita kenal "BELAJAR".
Allah ta'ala telah banyak memuji dan mengangkat orang-orang yang berilmu, yang berakal, yang mau mengambil pelajaran. Di salah satunya adalah firman Allah ta'ala di Q,S Al-Mujaadilah:11
"...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."Apa yang begitu istimewa dari mereka yang berakal?
Mengapa tidak semua hamba Allah yang disebut berakal?
Mengapa orang yang mau belajar begitu tinggi dan dimuliakan?
Silakan kawan berpikir dahulu. In syaa Allah saya lanjutkan di edisi berikutnya ya...:D
Oh ya,Like page kami di facebook: Ikatan Pelajar Muslimah Indonesia dan twitter kami di @ipmipusat
Menuju TERAS NASIONAL 2014
Satu langkah, dari Pelajar Muslimah untuk Indonesia!!
Bangkitlah Hey Kau, Pemuda!
Dunia sedang gempita dengan berbagai isu
Karena dunia, itu isu Internasional
Tapi, Hey! Negerimu juga sedang risuh dengan berbagai prahara!
Dan itu isu lokal, nasional, khusus untukmu!
Pemuda yang menjadi secercah cahaya harapan bangsa!
Bukankah negeri ini kini sedang marak dengan bencana?
Tak hanya itu, hakikatnya bangsa ini sudah di ujung tanduk
Bukan hanya dari sisi keamanan secara fisik yang berupa bencana tadi
Bukan pula hanya dari sisi materiil dengan masih tingginya angka korupsi,
Tapi juga keamanan secara mental berupa infiltrasi kesesatan yang merajalela
Dan, kawan, itu tak terjadi di lapisan bawah!
Itu sedang terjadi di parlemen kita, pemerintah
Ya, ini secara khusus kutujukan untukmu!
Hey Pemuda Islam!
Pemuda ISLAM!
Semua kalian pemuda yang memeluk agama nan mulia ini!
Tidakkah kalian malu?
Negeri ini sedang terjangkiti wabah yang seperti tumor!
Saat kecil mungkin masih tak nampak begitu menyiksa
Tapi saat sudah membesar, ia akan menjadi tumor GANAS yang bisa membunuhmu dalam sekejap mata
Bukankah sudah sangat cukup ulah kalian yang merusak?
Dengan narkoba, freesex, tawuran, malas-malasan, hura-hura dan sebagainya
Kesenangan sementaramu itu hanya tinggal sebentar lagi jika "wabah" ini kian membesar!
Tidakkah kau menangis melihat saudaramu di Suriah?
Mereka harus menanggung beban yang sangat berat!
Jangankan hura-hura, di dalam rumah pun mereka tidak merasa aman!
Kau melupakan Tuhanmu, dan mereka harus berjuang untuk tetap menjaga kalimat tauhid di negeri sana!
Apa bagusnya kau dengan hura-huramu lantas setelah wafat kau tersiksa dengan siksa yang pedih?
Apa bagusnya kau dengan tawa heroikmu lantas api yang mendidihkan otak dari kaki adalah siksa ter-ringan di neraka yang kau dustakan?
Hey, kau Pemuda!
Jika kau sibuk dengan bentrok dan demo dimana-mana,
Mengapa kemampuan bicaramu tak kau gunakan saja untuk berdakwah di jalan Allah?!
Dengan begitu, tauhid di negeri ini bisa terngiang dengan lantang!
Dengan begitu, kemuliaan Robb yang Maha Kaya lah yang terjunjung tinggi?
Ya, wabah yang kusampaikan adalah kesesatan yang Nyata
Syi'ah rafidhah yang masuk ke negeri ini,
Menunggu kau lengah dengan idealitasmu sebagai seorang Mahasiswa Muslim
Mereka hendak memimpin negeri ini dengan kesesatan
Dan bisa jadi, Kasus Suriah akan pindah ke Indonesia
Maka, wahai Pemuda Islam!
Kembalilah pada Tuhanmu, kembalilah pada jalanNya
Pelajarilah agamamu sebelum sugesti dan gaungan kesesatan menyapa logikamu
Lalu kau akan memilihnya dan senang sementara
Tapi tempat kembalimu adalah neraka yang menyala
=Setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya neraka=
Ya, Wahai Pemuda!
Kembalilah pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah yang mulia berdasarkan pemahaman para salaf yang shalih!
Karena dunia, itu isu Internasional
Tapi, Hey! Negerimu juga sedang risuh dengan berbagai prahara!
Dan itu isu lokal, nasional, khusus untukmu!
Pemuda yang menjadi secercah cahaya harapan bangsa!
Bukankah negeri ini kini sedang marak dengan bencana?
Tak hanya itu, hakikatnya bangsa ini sudah di ujung tanduk
Bukan hanya dari sisi keamanan secara fisik yang berupa bencana tadi
Bukan pula hanya dari sisi materiil dengan masih tingginya angka korupsi,
Tapi juga keamanan secara mental berupa infiltrasi kesesatan yang merajalela
Dan, kawan, itu tak terjadi di lapisan bawah!
Itu sedang terjadi di parlemen kita, pemerintah
Ya, ini secara khusus kutujukan untukmu!
Hey Pemuda Islam!
Pemuda ISLAM!
Semua kalian pemuda yang memeluk agama nan mulia ini!
Tidakkah kalian malu?
Negeri ini sedang terjangkiti wabah yang seperti tumor!
Saat kecil mungkin masih tak nampak begitu menyiksa
Tapi saat sudah membesar, ia akan menjadi tumor GANAS yang bisa membunuhmu dalam sekejap mata
Bukankah sudah sangat cukup ulah kalian yang merusak?
Dengan narkoba, freesex, tawuran, malas-malasan, hura-hura dan sebagainya
Kesenangan sementaramu itu hanya tinggal sebentar lagi jika "wabah" ini kian membesar!
Tidakkah kau menangis melihat saudaramu di Suriah?
Mereka harus menanggung beban yang sangat berat!
Jangankan hura-hura, di dalam rumah pun mereka tidak merasa aman!
Kau melupakan Tuhanmu, dan mereka harus berjuang untuk tetap menjaga kalimat tauhid di negeri sana!
Apa bagusnya kau dengan hura-huramu lantas setelah wafat kau tersiksa dengan siksa yang pedih?
Apa bagusnya kau dengan tawa heroikmu lantas api yang mendidihkan otak dari kaki adalah siksa ter-ringan di neraka yang kau dustakan?
Hey, kau Pemuda!
Jika kau sibuk dengan bentrok dan demo dimana-mana,
Mengapa kemampuan bicaramu tak kau gunakan saja untuk berdakwah di jalan Allah?!
Dengan begitu, tauhid di negeri ini bisa terngiang dengan lantang!
Dengan begitu, kemuliaan Robb yang Maha Kaya lah yang terjunjung tinggi?
Ya, wabah yang kusampaikan adalah kesesatan yang Nyata
Syi'ah rafidhah yang masuk ke negeri ini,
Menunggu kau lengah dengan idealitasmu sebagai seorang Mahasiswa Muslim
Mereka hendak memimpin negeri ini dengan kesesatan
Dan bisa jadi, Kasus Suriah akan pindah ke Indonesia
Maka, wahai Pemuda Islam!
Kembalilah pada Tuhanmu, kembalilah pada jalanNya
Pelajarilah agamamu sebelum sugesti dan gaungan kesesatan menyapa logikamu
Lalu kau akan memilihnya dan senang sementara
Tapi tempat kembalimu adalah neraka yang menyala
=Setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya neraka=
Ya, Wahai Pemuda!
Kembalilah pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah yang mulia berdasarkan pemahaman para salaf yang shalih!
Benarkah Kecerdasan Mereka?
Sejenak saya berpikir, melihat alam semesta yang begitu luas dan melihat manusia yang lalu lalang. Lantas saya mengingat tayangan di Youtube tentang betapa besarnya alam semesta ini. Bumi yang kita anggap besar ternyata begitu kecil dan hanya secuil saja. Ya, kalau mau dilihat dari langit paling atas, tentulah kita, manusia, tak ubahnya hanya seperti atom saja.
Kemudian, saya kembali mengingat-ingat, mengapa saya berpikir demikian? Maksud saya, tak ada angin tak ada hujan, gambaran mengenai alam semesta itu tiba-tiba saja terlintas di benak saya untuk saya telaah. Jujur, saya sebenarnya tidak begitu suka berpikir atau menghafal, karena tiba-tiba saja kepala saya menjadi aneh, seakan saya ingin mengetahui semuanya dan akan berpikir dalam tentang itu, ujung-ujungnya ya sakit kepala.
Tapi, saya kembali ingat (lagi) mengenai firman Allah ta'ala:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal," (Q.S Ali-'Imran: 190)
Hanya bagi orang-orang yang berakal! Bahkan di ayat lain akan banyak kita temui kata-kata yang serupa seperti,"... bagi orang yang berpikir.."," bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran..", dsb, dll, dkk. Maa syaa Allah.. Padahal semua manusia punya otak tapi ternyata tak semua mempunyai akal sehat!
Lalu saya kembali memikirkan tentang Islam. Tentang ini, Anda yang punya keyakinan lain (read: agama lain) mungkin akan menyanggah atau tak setuju, tapi saya hanya ingin mengajak Anda berpikir. Hanya itu. Sebab, karena kesombongan yang besar, bisa saja Anda jatuh ke lubang yang paling dalam.
Ini mengenai satu kata yang sering kita dengar, "TUHAN".
Saya merasa aneh dengan mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan. Ya, mungkin Anda mengatakan itu adalah hak asasi. Tapi, coba Anda simak kisah berikut ini:
Ada seorang ulama yang janji bertemu dengan seorang atheis. di hari dan waktu yang telah ditentukan, atheis tersebut sudah berada di tempat yang dijanjikan. Beberapa menit berlalu, ulama tersebut tak kunjung datang. Lantas, si atheis tersebut sudah berpikiran buruk tentang ulama tersebut. Hingga akhirnya beberapa puluh menit selanjutnya, saat si atheis sudah sangat marah dan hendak pulang, barulah sang ulama tersebut datang dengan berlari-lari kecil.
Si atheis bertanya," Ada apa Anda ini?" dengan sedikit kesal.
Si ulama menjawab," Maaf, tadi sebelum saya ke sini saya harus melalui sebuah sungai. Nah, untuk menyeberang sungai tadi saya agak kebingungan karena tidak ada jembatan. Kalau memutar akan sangat-sangat jauh. Tiba-tiba, pohon-pohon di sekitar tumbang sendiri dan bergerak sendiri membentuk sebuah sampan! Barulah saya bisa tiba ke sini."
Bertambah marahlah si atheis, ia berkata," Mana Mungkin! Tidak masuk akal sampan itu bisa membentuk sendiri!"
Maka ulama menjawab," Anda lebih tidak masuk akal! Jika sampan yang kecil tersebut harus ada yang membuat dan merakitnya, apalagi alam semesta yang begitu sempurna hitungannya! Apalagi tubuh Anda yang begitu sempurna, pasti ada yang menciptakannya!"
Maka akhirnya si atheis tersebut menyadari kebodohan yang selama ini ia alami.
Ya, kecerdasan apa yang dimliki orang yang tidak mengakui Tuhan?
Jika hanya sekedar kecerdasan melakukan rumus matematika, apakah itu cukup menjadi bekal kecerdasannya jika logika sehatnya tak jalan? Padahal matematika membutuhkan logika pula?!
Maka, pikirkanlah kembali tentang alam semesta, tentang tumbuhan yang begitu ajaibnya dapat menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen, tentang tubuh yang begitu sempurna pengaturannya, tentang pergantian siang dan malam yang penuh dengan aturan yang akurat, dan tentang-tentang lainnya yang akan berujung pada satu titik yaitu, semua itu PASTI ada yang menciptakannya, Dialah Dzat Yang Maha Besar yang Maha Kuat, Maha Perkasa, Allah 'azza wa jalla.
Ada juga...
Ya, mengaku Tuhan itu ada. Sayangnya, mereka mengatakan bahwa Tuhan itu 2, atau 3. Pertanyaannya, Sebenarnya hakikat penyandaran kata Tuhan itu pada apa? Bukankah pada sesuatu YANG MAHA BERKUASA? Bukankah PADA PENCIPTA ALAM SEMESTA? Lalu, mengapa Tuhan harus 2 atau 3 dan bukannya CUKUP SATU saja? Mengapa mereka menyandarkan diri pada "sesuatu" yang juga bersandar pada yang lain? Contohnya, batu. Bukankah batu itu tidak dapat melakukan apa-apa? Bergerak saja tidak bisa apalagi jika harus memberikan kebaikan atau keburukan pada seseorang? Atau mengapa mereka menganggap "manusia" sebagai Tuhan?! Padahal manusia seperti kita! Tidak berkuasa penuh atas diri kita. Jika ada yang membantah, coba penuhi syarat saya," Bisakah Anda menjamin untuk menolak kematian jika ia mendatangi Anda?" Setiap manusia akan mati. Bukan saja manusia, seluruh yang bernyawa PASTI mati pada waktunya masing-masing. Lalu, mengapa mereka menjadikan itu sebagai Tuhan?
Maka, ketika kita menanyai hati kecil kita, ketika kita melihat alam semesta, memikirkan tentang diri kita, maka tahulah kita BAHWA Tuhan adalah Dzat yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, TIDAK MEMERLUKAN apapun atau siapapun, TIDAK MUNGKIN sama dengan kita atau makhluk yang kita lihat tapi Dia lebih MULIA dan AGUNG.
Lalu, coba kita melihat sejarah, melihat pula masa kini, tanda-tanda pengenalan tentang Tuhan ini ada!
Ada sebuah kitab yang sempurna, yang terjaga BAHKAN selama 14 abad lamanya! Dan juga, kebenaran kitab ini telah terbukti! Para ilmuwan banyak yang kemudian memeluk agama yang sungguh mempercayai sepenuhnya SATU Tuhan saja untuk diibadahi. Ya, itulah kitab Al-Qur'an. Kitab yang diturunkan pada seorang Nabi yang tidak dapat membaca dan menulis, maka bagaimana bisa Al-Qur'an itu dibuat olehnya? Sungguh, AL-Qur'an itu diturunkan oleh Allah ta'ala, Robb, Tuhan yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Tidak membutuhkan apa-pun, dan cukuplah tanda-tandaNya di banyak hal di dunia ini.
Dan inilah, kecerdasan yang hakiki...
Hanya mengajak orang yang mau meneliti kebenaran sejati...
Wallohu 'alam.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








